sebenarnya, demi jiwa, teman itu apa?
kau tidak seharusnya menempuh hidup ini sendirian. kau ada (perlu) teman yang menjadikan yang tawar sebagai penawar, pahit sebagai pembangkit, masam sebagai ubat resam dan pedas sebagai pemujuk hati yang tertindas.
teman, seperti kekasih keduamu, tidak berdaya menghapuskan bongkah batu yang menghalangimu, atau merendahkan gunung vesuvius yang memisahkanmu dari apa yang kauimpikan. namun, mereka berupaya menjadikan semuanya kelihatan berbaloi. merekalah yang menggenggam saki-baki bara api cita-citamu tatkala yang kaupegang sudah menjadi arang.
ada teman kita, lebih percaya kepada impian kita melebihi diri kita sendiri. bukan sekadar atas dasar bersaudara, namun juga atas alasan mereka telah melihat baik-burukmu, dan dalam upacara saling memaafkan segala khilaf, dia menemukan semangat lamamu yang tenggelam dalam timbunan komitmen.
dialah yang melihat lebih daripada sikap dan perilaku luaranmu, mengesan niat sucimu, menyentuhmu dengan rasa kasih yang sungguh, yang tidak akan membiarkan apa yang kaumahukan terbiar saja teekubur tanpa sebarang upacara, hatta oleh kau sendiri. dialah dirimu yang masih percaya esok adalah harapan terang.
terima kasih, untuk semua lantunan doa, untuk semua usaha, untuk semua rasa percaya dan untuk semua kedegilanmu. semoga kita bersua semula di lembah syurga.
Comments
Post a Comment